Kamis, September 04, 2008

Jujur



Kata "jujur" akhir2 ini sudah merupakan barang langka, kayak nya kita harus sama2 melestarikan yg namanya "Jujur" ini. Kita sudah banyak yg melupakan nya sehingga menjadi sesuatu yg susah utk dicari. Tapi, kita ga perlu pesimis, krn kejujuran masih ada koq... -^- . Kita bisa mulai dari diri kita sendiri lalu keluarga kita utk melestarikan ini. Meski banyak kesulitan dan rintangan yg akan kita temui didalam melestarikan kejujuran ini.
Saya jadi inget sm ceramah Ustadz yg mengawali sholat Tarawih di mesjid di lingkungan rumah pada hari pertama puasa. Cerita ini sgt menyentuh perasaan saya. Kisah seorang Santri pd zaman dahulu yg krn kejujurannya membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kisah ini diawali ketika sang santri pulang dari sebuah acara pengajian, kebetulan saat itu adalah bulan ramadhan. Saat Santri berjalan menyusuri pinggiran sungai, dia melihat ada sebuah apel yg terlihat ranum krn matang, hanyut terbawa arus sungai yg mengalir pelan. Melihat buah apel yg begitu ranum, si Santri segera mengambil apel tsb, dan membawanya pulang yg akan dijadikan sebagai makanan berbuka nanti.
Sesampai di rumah apel tsb dimakan oleh si Santri, setelahnya tidak ada kejadian apa2. Tapi ada keanehan yg dialaminya, ketika keesokan harinya, ketika belajar ttg hafalan Al Qur'an, banyak bacaan2 ayat yg tadinya sudah hafal, tapi saat itu dia tidak bisa melafalkan ayat2 tersebut secara luar kepala. Dan banyak lagi pelajaran2 yg tadinya sudah dikuasai, malah banyak yg terlupa. Dia merasakan keanehan itu dan akhirnya dia menanyakan ke guru.
Sang guru lalu menyimpulkan bahwa si Santri telah berbuat maksiat bbrp wkt sebelumnya. Santri merasa heran, dia berpikir, maksiat apa yg telah dilakukan, spt nya ga ada . Akhirnya dia teringat dgn apel yg dia temukan di sungai kemarin. Setelah menyampaikan kejadian itu kepada gurunya, sang guru menyarankan agar dia meminta izin kpd yg punya. Si santri harus mencari pohon apel tsb dan menemukan pemiliknya.
Akhirnya santri menyusuri pinggiran sungai dan menemukan ada kebun apel di pinggir sungai, dia mencari pemiliknya dan mengatakan dgn sejujurnya kpd pemilik bahwa dia telah mengambil buah apel yg terjatuh dan hanyut di sungai. Si pemilik mengikhlaskan tapi dgn syarat si Santri harus bekerja di kebunnya selama setahun tanpa dibayar, hanya diberi makan dan tempat tinggal. Meski terasa berat tp santri menyetujuinya. Bekerjalah si Santri di kebun apel itu, sampai beberapa bulan kemudian ada pedagang apel yg ingin membeli apel dr kebun itu. Setelah persetujuan tawar menawar, akhirnya pembeli setuju dan meminta utk disediakan apel yg paling manis. Si pemilik kebun berpikir utk menguji Santri yg telah menjadai pegawainya, dia memanggil si Santri, dan bertanya "Tolong kamu sediakan apel2 termanis yg ada, tentunya kamu tau dr pohon mana tersedianya ".
Jawab santri " Maaf pak, saya tidak tau dr pohon mana apel yg termanis "
"Lho, kan kamu yg selama ini merawat apel2ku " Tanya pemilik kebun.
" Ya benar pak, tapi selama ini saya selalu makan buah apel dari yg bapak berikan saja utk saya "
Dalam hati pemilik berkata " Wah...jujur sekali anak ini".
Beberapa hari kemudian, pemilik kebun memanggil si Santri.
"Kamu mau saya nikahkan dengan anak saya, apakah kamu bersedia ?" Tanyanya.
"Semua terserah kepada bapak" Jawab santri.
"Yaa...aku senang dgn mu, krn kamu adalah pegawai yg baik dan jujur, tapi..."
"Tapi apa pak" Tanya santri agak sedikit penasaran.
"Putri saya matanya buta, telinganya tuli, mulutnya bisu, tangan dan kakinya lumpuh"
"Ooo...tak mengapa pak, sy akan ikhlas menerimanya " Jawab santri dengan tulus.
"Baiklah kalau begitu, sekarang sy nikahkan kamu "
Setelah prosesi pernikahan selesai, santri dipersilahkan utk melihat istrinya di kamar. Ketika santri sampai di kamar, dia kaget, krn ternyata sang istri sangatlah sempurna bahkan sangat cantik sekali.
Santri buru2 keluar dan menemui pemilik kebun, "Pak, sy batalkan pernikahan ini, krn bapak telah melanggar janji, tadi kan bapak bilang bahwa putri bapak itu bisu, tuli, buta dan lumpuh, tp kenyataannya dia sangat lah sempurna "
Pemilik kebun tertawa senang mendengar protes santri.
Dia berujar "Nak...apa yg kamu lihat itu benar adanya, anakku matanya buta : dia buta dari penglihatan yg buruk2, telinganya tuli dia tidak pernah mendengar hal2 yg buruk dan maksiat, mulutnya bisu dia tidak pernah menceritakan hal2 yg buruk spt ghibah atau gosip yg ga benar, kakinya lumpuh dia tidak pernah melangkahkan kakinya ke tempat2 maksiat, dan tangan nya lumpuh dari perbuatan2 buruk yg dilakukan dengan tangannya"
"Alhamdullillah......Ya Allah " si santri berucap syukur.
"Nah..selanjutnya...krn sy ingin beristirahat dr pekerjaan2 saya selama ini, mulai saat ini semua harta dan kebun sy akan sy hibahkan utk kamu wahai santri jujur" kata pemilik kebun.
Santri merasa sgt bahagia mendengar hal itu dan sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT yg telah memberinya nikmat hidup yg tiada taranya itu.
Akhirnya si Santri hidup bahagia sampai ke anak cucu.
Demikian cerita ini, memang sebuah kejujuran sekecil apapun sering harus dibayar mahal. Sy sendiri merasakannya. Kalau kita mau mulai jujur, ada sisi2 yg harus kita korbankan.
Tapi sy bisa merasakan suatu dorongan stlh mendengar cerita ini, dorongan utk mulai hidup jujur dan apa adanya. Mudah2an kita semua bisa melaksanakannya. Aminnn ya Robbal Alamin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon beri komentar yaa...